All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World All Around The World

Sabtu, 09 Oktober 2010

Resensi Sebilah Sayap Bidadari



Meraut Larik-larik Kisah di Balik Gempa
Judul Buku : Sebilah Sayap Bidadari
Penulis : Dewi “Dee” Lestari, Fira Basuki, dkk
Penerbit : Pustaka Fahima, Yogyakarta
Tahun Terbit : April 2010
Jumlah Halaman : xviii + 270 hlm; 140 mm x 200 mm
Harga : Rp 50.000
ISBN : 978-979-1355-64-3
Antologi ini ibarat anyaman dari bambu, yang diraut oleh tangan-tangan telaten. Tangan-tangan yang tidak hanya menarikan kata-kata, tapi juga melukis rasa yang membara, terkoyak-koyak rengkah dari ratapan yang meraung di sepanjang malam di patahan sesar semangka, Minangkabau. Menyala bagaikan bohlam yang bersinar remang-remang dibawah parlak pada tanah gempa. Tangan-tangannya di gerakkan oleh rasa bersigesak dari histeris tangis, dramaturgis, dan romantisme yang terhampar dari luluh puing-puing tanah andalas yang retak.
Disini, sangat terasa larik-larik kalimatnya yang diraut dari kisah dari tanah gempa, aromanya yang menarikan pelbagai sesak. Bagaikan mendaki ke puncak Gunung Merapi. Di puncak itu akan merasakan udara-udara pengharapan yang menipis. Walau sebagian tepi alamnya retak-retak, akibat geliat bumi yang terjaga dari tidur panjangnya. Lempeng-lempeng itu, rengkah. Memuntahkan banyak kisah. Menjadi larik-larik yang dramatis. Menjadi narasi bisu, ketika tangis menggelantung di ufuk jingga keperak-perakan pada rembang petang. Telah menjadi benang-benang yang direntangkan kepada langit. Membawa sejuta doa kepada Tuhan, yang menampar ciptaan-Nya, dengan tamparan penuh hikmah. Ini kemudian yang dijadikan larik-larik cerita pendek dan puisi oleh tangan-tangan yang selalu menarikan kata-kata. Mereka yang menulis dalam antologi ini.
Bagaikan sebilah sayap bidadari. Sayap yang dikepakkan, menjadi sebilah duka. Dari desiran sayap itu, ada sejuta bidadari menarikan hikmah. Bagaikan tarian dalam semerbak doa, pada hamparan melati putih diatas pusaran yang masih basah. Rerangkai cerita dan puitika dalam antologi “Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7,9 Scala Richter”, menjadi telinga yang dilekatkan pada bumi, mendengarkan hikmah yang bergetar dan denyut pesan dari tanah gempa. Lalu dijadikan narasi bisu. Tidak sekadar ekspresi kata, tapi telah menjadi ekspresi hati ketika getar dan ditingkahi gegar, bergoncang. Rerangkaian cerita pendek dengan topangan puitika ini, akan menjadi memorilibia di rentang zaman.
Buku ini dibuat untuk mengenang terjadinya gempa di Sumatera Barat, menggambarkan suasana saat terjadinya gempa. Bagaimana kita ikut merasakan apa yang taerjadi di sumetera Barat, entah itu suasana yang mencekam. Perasaan yang perih, cemas, gusar pada saat terjadi gempa dengan kakuatan 7,9 SR. Buku ini sanagt bagus untuk kita baca, karena ceritanya yang sangat menyentuh, bahasanya mudah dipahami, enak dibaca, buku ini tidak sekedar untuk menggalang dana kemanusiaan dari royaltinya (penjualan). Tapi juga menjadi monument peristiwa diatas gempa yang berkekuatan 7,9 SR, di bumi Minangkabau. Buku ini tidak hanya memuat kumpulan cerpen saja, tetapi ada kumpulan puisinya juga, cover bukunya pun menarik, dan jenis kertasnya pun tidak buram.
Tetapi, tidak semua dalam buku ini mengisahkan tentang gempa, ada 3 cerita yang berbeda yaitu berjudul Jari-Jari, Meraut Senja, dan Guruji. Cerpen Jari- Jari yang mengisahkan tentang kesibukan pekerjaan seseorang dimana hari-harinya penuh dengan kerja dan bekerja, tetapi memiliki sahabat yang penuh perhatian dan baik hati, walaupun sahabatnya itu tak lagi memiliki jari yang utuh. Cerpen Meraut Senja mengisahkan seorang anak, orang-orang selalu menyebutnya sebagai perempuan senja, yang sangat menyayangi ibunya dan tak penah mengingkari janji untuk bertemu ibunya, yaitu mengunjungi makam ibunya tersayang. Cerpen Guruji mengisahkan dua orang yang bernama sama yang dikenal dengan “Duo Plasenta Ari-Ari”, karena nama mereka sama, yaitu “Ari”. Yang satu menyentuhkan, yang satu lagi merecoki. Mereka yang telah lama tidak berjumpa, dan akhirnya bertemu dan kembali menjadi diri masing-masing.
Membaca antologi ini, seperti mengeja puing-puing yang masih berserakan diatas bumi yang oleng. Bagaikan merapal mantra. Ia menjadi pengsarahan ketika kisi-kisi hidup berhenti sejenak, tergagap melihat ratanya tiang-tiang kehidupan dengan tanah. Membaca antologi ini, seperti memetik kecapi di tengah malam, ketika hati gelisah dilumat gegar menyasikan ratapan anak-anak manusia kehilangan peraduannya. Seperti cecetan burung tandahasih, yang kehilangan pasangan hidupnya. Maka bacalah, agar meraut hikmah dari kisah-kisah yang dituangkan dari curup tanah gempa yang dinamai “Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7,9 SR”.

NAMA : NIKEN WAHYUNING PUTRI
KELAS : XII IPA 2
SMA PKP JAKARTA ISLAMIC SCHOOL

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar